Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan Peninggalannya [Lengkap]

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno – Pernahkah kalian mendengar sejarah kerajaan mataram kuno? Jika belum, pada kesempatan kali ini kita bagaimana sejarah tentang Kerajaan Mataram Kuno. Adapun beberapa poin yang akan kita bahas kali ini diantaranya: sejarah Kerajaan Mataram Kuno, Raja-raja yang pernah memimpin, kejayaan dan runtuhnya kerajaan tersebut, beberapa peninggalan sejarahnya dan masih ada bayak lagi.

Agar lebih jelas tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno berikut penjelasannya.

sejarah kerajaan mataram kuno
Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno sebenarnya salah satu kerajaan terbesar dan mempunyai pengaruh yang besar di Indonesia. Kerajaan ini terletak di daerah Jawa Tengah yang kebanyakan orang biasanya menyebutnya dengan Bumi Mataram. Selain itu kerajaan tersebut juga dikelilingi oleh beberapa gunung dan pegunungan diantaranya Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi dan Merbabu, Gunung Lawu serta Pegunungan Sewu.

Tidak hanya gunung dan beberapa pegunungan, kerajaan Mataram Kuno juga dialiri oleh beberapa sungai besar seperti Sungai Bogowontono, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Oleh sebab itu daerah kerajaan yang bercorak agama Hindu tersebut sangat subur. Tak heran jika Kerajaan Mataram Kuno sangatlah maju dan besar pengaruhnya saat itu.

Pada awalnya pusat Kerajaan Mataram Kuno berada di daerah Mataram (Yogyakarta) yang kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Kemudian pada masa pemerintahan Dyah Balitung sudah dipindah ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Tak lama kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan pusat Kerajaan Mataram Kuno kembali ke daerah Mataram, dan yang akhirnya kembali dipindah oleh Mpu Sendok ke wilayah Jawa Timur.

Selain itu Kerajaan Mataram Kuno juga sering disebut dengan Kerajaan Medang. Menurut sejarah kerajaan tersebut mempunyai 3 wangsa (dinasti) yang pernah menguasai Kerajaan Mataram Kuno, antara lain Dinasti Syailendra, Dinasti Sanjaya dan Dinasti Isana.

Dinasti Sanjaya merupakan salah satu dinasti yang memeluk agama Budha. Sedangkan Dinasti Syailendra menganut agama Budha pada zaman itu. Dan yang terakhir adalah Dinasti Isana, dinasti tersebut merupakan Wangsa baru yang dibuat oleh Mpu Sendok.

Dalam kepemimpinannya Sanjaya merupakan Raja yang pertama di Kerajaan Mataram sekaligus pendiri Dinasti Sanyaja yang menganut agama Budha. Setelah Sanjaya meninggal, kemudian digantikan oleh Rakai Panakaran yang kemudian berpindah agama Budha dengan aliran Mahayana.

Pada saat itu juga Wangsa Syailendra berkuasa di Kerajaan Mataram. Sejak saat itu juga agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Kerajaan Mataram. Selain itu di kerajaan tersebut juga dibagi tempat tinggalnya, mereka yang beragama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara sedangkan yang beragama Budha tinggal disebelah Selatan.

Wangsa Sanjaya kembali memegang tangku kepemerintahan setelah anak Raja Samaratungga Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan yang menganut agama Hindu. Dari pernikahan tersebut membuat Rakai Pikatan menjadi Raja dan memulai kembali Wangsa Sanjaya. Rakai Pikatan juga pernah berhasil menyingkirkan Balaputradewa yang termasuk anggota Wangsa Syailendra dan juga merupakan saudara dari Pramodawardhani.

Balaputradewa pun akhirnya pindah ke Kerajaan Sriwijaya yang akhirnya menjadi seorang raja disana. Kemudian Dinasti Sanjaya berakhir pada masa Rakai Sumba Dyah Wawa, karena sebuah perdebatan sebuah teori yang mengatakan bahwa akan ada suatu bencana yang akan menghancurkan Kerajaan Mataram. Kemudian Mpu Sendok pun mengambil alih kekuasaan dengan menjadi raja di Kerajaan Mataram dan memindahkan pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur lalu membangun Wangsa baru yang diberi nama Wangsa Isana.

Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno

Dari sekian banyak Dinasti ada beberapa raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram Kuno, diantaranya:

  1. Sanjaya (pendiri Dinasti Sanjaya)
  2. Rakai Panangkaran, (awal berkuasanya Wangsa Syailendra)
  3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  4. Rakai Warak alias Samaragrawira
  5. Rakai Garung alias Samaratungga
  6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani (awal kebangkitan Wangsa Sanjaya)
  7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
  8. Rakai Watuhumalang
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung
  10. Mpu Daksa
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa
  13. Mpu Sindok (awal periode Jawa Timur)
  14. Sri Lokapala (merupaka suami dari Sri Isanatunggawijaya)
  15. Makuthawangsawardhana
  16. Dharmawangsa Teguh (berakhirnya Kerajaan Medang)

Dari banyaknya raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram Kuno, hanya Sanjaya lah yang menggunakan gelar Sang Ratu. Sedangkan raja setelah itu hanya memakai gelar Sri Maharaja saja. Agar lebih berrikut silsilah raja-raja Kerajaan Mataram Kuno.

silsilah raja kerajaan mataram kuno
Silsilah Raja Kerajaan Mataram Kuno

 

 

Baca juga: Sejarah dan Biografi Walisongo

Kehidupan di Kerajaan Mataram Kuno

Ada beberapa bidang kehidupan yang terjadi dimasa Kerajaan Mataram Kuno, seperti kehidupan politik, kehidupan ekonomi, kehidupan sosial dan kehidupan kebudayaan. Agar lebih jelas berikut penjelasannya.

Kehidupan Politik

Dalam mempertahankan kekuasaannya, Kerajaan Mataram Kuno melakukan kerjasama kepada beberapa kerajaan disekitarnya seperti: Kerajaan Sriwijaya, Siam dan India. Selain itu Kerajaan Mataram kuno juga menggunakan sistem perkawinan politik. Misalnya pada masa Samaratungga yang berusaha menyatukan kembali Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya yaitu menikahkan Pramodyawardhani (Wangsa Syailendra) dengan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya).

Sistem tersebut dilakukan karena Wangsa Sanjaya merupakan penguasa diawal Kerajaan Mataram Kuno berdiri, sedangkan Wangsa Syailendra berdiri pada akhir abad ke 8 M. Dengan sistem tersebut maka terjalinlah kerukunan antara agama Hindu (Wangsa Sanjaya) dengan Budha (Wangsa Syailendra).

Kehidupan Ekonomi

kehidupan politik kerajaan mataram kuno
Kehidupan di Kerajaan Mataram

Sebenarnya pusat Kerajaan Mataram Kuno terletak di sekitar lembah Sungai Progo yang sekarang meliputi: Magelang, Muntilan, Sleman dan Yogyakarta. Di daerah tersebut sangat terkenal dengan kesuburan tanahnya, sehingga kebanyakan masyarakat pada saat itu memilih untuk bertani. Selain itu, banyak kerajaan -kerajaan lain yang melakukan ekspor dan impor hasil pertaniannya.

Dalam usaha perdagangan pun juga mendapat perhatian dari ketika Raja Balitung berkuasa saat itu. Raja Balitung telah membuat pusat perdagangan berada di sekitar Sungai Bengawan Solo. Sebagai imbalannya para penduduk di sekitar Sungai Bengawan Solo tidak dikenai pajak sedikitpun.

Dengan adanya perdagangan tersebut membuat Kerajaan Mataram Kuno menjadi semakin maju dalam kesejahteraan dan perekonomiannya.

Kehidupan Kebudayaan

Kehidupan di Kerajaan Mataram
Tradisi di Kerajaan Mataram

Semangat kebudayaan di masyarakat Mataram Kuno ini terbilang cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Kuno berupa sebuah candi dan prasasti. Selain itu masyarakat Mataram Kuno telah mengenal bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.

Tidak hanya itu, masyarakat Mataram Kuno juga mampu membuat sebuah syair.

Kehidupan Sosial

Meskipun masyarakat Kerajaan Kuno memiliki agama yang berbeda, tetapi mereka tetap hidup rukun dan mempunyai sikap toleransi yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan saat mereka bergotong royong membuat Candi Borobudur dengan bersama-sama. Dengan adanya sikap toleransi itu sebuah candi yang besat tersebut bisa terselesaikan.

Selain itu sikap keteraturan pada suatu hukum juga terbukti disemua pihak. Perturang yang dibuat oleh masyarakat desa ternyata juga dihormati oleh pegawai kerajaan. Akibatnya semua bisa berlangsung karena adanya hubungan erat antara rakyat dengan orang-orang di kalangan Kerajaan.

Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Pada masa pemerintahan Raja Balitung (898-910 M), Kerajaan Mataram Kuno sedang berada dimasa kejayaannya. Dimasa pemerintahannya pula Kerajaan Mataram juga menaklukan beberapa daerah disebelah timur Mataram. Oleh karena itu Daerah kekuasaan Kerajaan Mataram semakin luas, yang meliputi Bagelen (Jawa Tengah) dan Malang (Jawa Timur).

Ada beberapa faktor penyebab kejayaan Kerajaan Mataram diantaranya:

  1. Naik tahtanya Sanjaya sebagai orang yang ahli dibidang peperangan
  2. Pembangunan sebuah waduk Hujung Galuh di Waringin Sapta (Waringan Pitu) yang digunakan untuk mengatur aliran Sungai Berangas, sehingga banyak kapal para pedagang dari jauh yang datang ke pelabuhan tersebut.
  3. Pemindahan kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan berbagai alasan yang kuat.

Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno

runtuhnya kerajaan mataram kuno
Ilustrasi Runtuhnya Kerajaan Mataram

Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno ini disebabkan karena adanya permusuhan antara Jawa dan Sumatera yang dimulai saat pengusiran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Setelah itu kemudian ia memiliki dendam kepada Raikai Pikatan dan akhirnya Balaputradewa menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya. Kemudian persaingan keduanya pun berkembang menjadi sebuah permusuhan secara turun-temurun.

Selain itu Kerajaan Mataram Kuno dengan Kerajaan Sriwijaya pun juga bersaing untuk menguasai jalur lintas perdagangan di Asia Tenggara. Sewaktu Mpu Sendok memulai periode di Jawa Timur, Kerajaan Sriwijaya pun datang menyerangnya. Peperangan tersebut terjadi di daerah Anjukladang (sekarang Nganjuk) dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan Mpu Sendok.

Runtuhnya Kerajaan Mataram ini saat pemerintahan Raja Dharmawangsa berlangsung. Saat itu permusuhan antara Kerajaan Mataram Kuno dengan Kerajaan Sriwijaya sedang memanas. Dalam sejarah tercatat Kerajaan Mataram Kuno lebih banyak melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 1006 M Dharmawangsa lengah dalam pertahanannya. Karena saat itu pada saat pernikahan putrinya, Kerajaan Mataram diserbu oleh pasukan Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut Dharmawangsa tewas.

Peninggalan Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Dari hasil kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno ada beberapa hasil dari peninggalan kerajaan tersebut yang sampai sekarang masih ada beberapa Candi dan Prasasti, diantaranya adalah”

Candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

peninggalan kerajaan mataram kuno
Candi Peninggalan Kerajaan Mataram

Seperti yang pernah disinggung diatas bahwa Mataram Kuno terdiri dari dua agama yaitu Hindu dan Budha. Dalam peninggalannya candi-candi tersebut mempunyai ciri khas yang berbeda karena berbeda agama. Berikut beberapa candi yang bersorak Hindu dan Budha.

  • Candi-candi yang bercorak Hindu diantaranya: Candi Gedong Songo, kompleks Candi Dieng, Candi Siwa, Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Sukuh, Candi Boko dan kompleks Candi Prambanan.
  • Candi-Candi yang bercorak Buddha Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan, Candi Sojiwan, Candi Pawon dan Candi Sari.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Selain candi ada juga beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno diantaranya:

  • Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya dengan berbentuk Candrasengkala berbunyi Srutiindriyarasa dan didirikan pada tahun 654 Saka 732 M dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi pokok Prasasti Canggal adalah pendirian sebuah lingga di Bukit Stirangga buat keselamatan rakyatnya.
peninggalan kerajaan mataram kuno
Peninggalan Kerajaan Mataram
  • Prasasti Balitung dibuat pada tahun 907 M, disebutkan nama keluarga raja-raja keturunan Sanjaya memuat nama Panangkaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada waktu itu Dinasti Sanjaya dan Sailendra sama-sama berperan di Jawa Tengah. Dinasti Sanjaya dibagian utara dengan mendirikan candi Hindu seperti Gedong Sanga di Ungaran, Candi Dieng di DataranTinggi Dieng. Adapun Dinasti Sailendra dibagian selatan dengan mendirikan candi Buddha, seperti Borobudur,  Mendut, dan Kalasan.
  • Prasasti Mantyasih atau Prasasti Kedu yang dibuat oleh Raja Balitung. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Sanjaya adalah Raja pertama (Wangsakarta) dengan ibu kota kerajaannya di Medangri Poh Pitu.
peninggalan kerajaan mataram kuno
Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram
  • Prasasti Kelurak (di daerah Prambanan) didirikan pada tahun 782, peninggalan tersebut menceritakan tentang pembuatan Arca Manjusri sebagai perwujudan Buddha, Dharma, dan Sanggha yang dapat disamakan dengan Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Leave a Comment

%d bloggers like this: