Menemukan Berbagai Hal yang Baru

Awal yang Kurang Pas

Setelah lulus dari bangku sekolah dasar, kemudian aku disarankan oleh ayah ku untuk masuk di salah satu pondok pesantren kecil di daerah bantul. Sebelum masuk di pondok tersebut, sebenarnya aku tidak minat untuk nyantri. Akan tetapi karena orang tua ku tidak mempunyai biaya pada saat itu, akhirnya aku pun masuk dengan hati yang kurang pas. Intinya ya cukup patuh saja kepada orang tua bagi saja.

Beberapa hari setelah melakukan pendaftaran di pondok , akhirnya saya pun dan kemudian mendatangi pondoknya. Pondok tersebut berdiri setelah terjadinya gempa di jogja pada tahun 2006 silam. Banyak sekali yang tak terduga saat masuk pondok. Ternyata tempatnya tidak seperti yang aku bayangkan.

Tidak seperti halnya dengan pondok-pondok yang terkenal, pondok yang nantinya akan saya tempati hanya seperti rumah biasa pada umumnya dan santrinya pun masih sedikit. Mengejutkan lagi saat masuk pondok itu, teman saya yang putra hanya 6 orang dan itu ternyata angkatan putra yang pertama dalam pondok tersebut. Sementara yang putri yang masuk bersama angkatan saya cukup lumayan banyak. Jika digabungkan jumlah santrinya hanya sekitar 15 orang karena tempatnya yang terbatas dan yang putra juga masih mengontrak.

Tidak mudah bagi saya saat itu untuk jauh dari orang tua dan harus hidup dalam lingkungan yang baru. Perlu sekali melakukan adaptasi pada lingkungan yang baru. Akan tetapi ada banyak sekali hal yang baru selama saya masa adaptasi tersebut.

Sewaktu masuk pondok saya sama sekali belum mengetahui hal yang berbau agama. Selain itu saya pun tentunya belum bisa mengaji. Didalam pondok saya diajari mengaji dari nol dan untuk bisa mengaji dengan lancar pun membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Lingkungan yang Baru

Setelah melewati fase-fase tersebut akhirnya saya pun bisa mengaji dan menghafal Al Quran. Selain diajari mengaji disana saya juga mempelajari menghafal Al Quran perkata dengan artinya. Awalnya memang menyenangkan tetapi lama kelamaan juga merasakan fase-fase yang membosankan.

Setiap orang pasti merasakan rasa bosan dalam melakukan sesuatu. Tergantung bagaimana cara kita membangkitkan semangat lagi agar tidak bosan dalam melakukan hal tersebut. Setiap pasti memiliki cara yang berbeda-beda.

Selain dalam hal mengaji dulu pernah juga menghafal hadits. Entah karena faktor apa, kegiatan tersebut tidak berlangsung lama kemudian berhenti. Ada juga kegiatan lain di pondok selain mengaji dan menghafal, yaitu jualan makanan ringan.

Menjual makanan ringan bukanlah hal yang dianjurkankan oleh pondok, melainkan salah satu teman saya mempunyai ide untuk membeli makanan ringan dalam jumlah perkilo. Kemudian taman saya mengajak sebagian temannya termasuk saya untuk berjualan makanan ringan dalam bentuk kemasan kecil, bukan lagi dalam bentuk kilo lagi.

Alat yang digunakan pun sudah disediakan jadi kita tidak perlu susah-susah untuk mencarikan alatnya. Makanan ringan tersebut dijual di warung sekitar dan juga di kantin sekolah masing masing. Godaan pun sering muncul, sewaktu merasa lapar ada saja orang yang membelinya sendiri kadang juga sampai ada yang hutang karena ingin makan camilan tetapi tidak punya uang. hehe…

Untuk keuntungannya sendiri sebagian untuk menambah penjualan dan sebagian lagi dibagi untuk bersama. Penjualan makanan nya pun tidak berlangsung lama. Mungkin hanya berjalan sekitar 2 bulan, karena dirasa pendapatannya kurang jadi yah malah bubar dengan sendiri sendiri. Maklum lah saat itu yang berjualan hanya orang sedikit yang mau dan semuanya masih belum bisa memanajemen uang.

Setelah berjualan makanan ringan bubar, kemudian para santri diajari untuk membuat kerajinan tangan dari kain. Kami  belajar membuat kerajinan tangan dari kain seperti : bross, gantungan kunci, penjepit, bunga, boneka, dompet kecil dan masih ada banyak lagi. Kami membuat kerajinannya itu semua hanya menggunakan kain : perca, flanel dan juga menggunakan dakron untuk sebagai bahan pengisi boneka.

Dalam pembuatan kerajinan ini berlangsung lebih lama dibandingkan berjualan makanan ringan sebelumnya. Dan hasilnya keuntunganya pun lebih terasa dari sebelumnya. Karena bahan bahannya yang murah serta pembuatannya tidak terlalu sulit, juga harga jualnya yang cukup lumayan.

Teknis penjualannya cukup dititipkan di warung juga untuk gantungan kunci dan bros. Untuk yang lainnya ada juga yang memesan dan ada juga beli langsung. Kebanyakan yang paling laris terjual adalah kerajinan bros dan gantungan kunci karena harganya yang murah dibandingkan dengan kerajinan yang dibuat lainnya.

Keuntungan penjualan dari kerajinan tersebut sebagian dibagi untuk yang ikut membuat kerajinan. Lumayanlah bisa untuk tambah uang jajan di sekolah. hehe…

Lambat laun dalam menekuni kerajinan usaha kami pun ditambah. Pada saat bulan ramadhan beberapa santri diberi arahan oleh salah satu pengurus pondok untuk jualan kurma bagi santri yang minat saja. Dan saya pun ikut berjualan kurma pada saat itu.

Untuk penjualan kurma sendiri masing masing kelompok yang terdiri dari 2 orang, kami jual dengan harga sekitar Rp. 50.000 untuk satu paketnya yang lumayan agak besar. Sejak saat itu pun saya merasakan bagaimana menjadi seorang pedagang yang sebenarnya. Mengapa ? Saat itu saya berjualannya di area perumahan menggunakan sepeda. Dengan mengetuk satu persatu pintu rumah.

Pada awalnya bersama dengan teman saya hanya membawa 6 paket kurma. Dan sebelum matahari diatas kepala ternyata kurma yang dibawa sudah habis duluan. Setelah semuanya habis saya dan teman saya pun kembali kepondok untuk mengambil kurma lagi sambil istirahat sebentar.

Sesaat setelah sholat dzuhur dan makan siang, kemudian saya bersama teman saya pun kembali melanjutkan untuk berjualan kurmanya. Alhasil dalam penjualan setelah dzuhur tersebut, kurma yang kami bawa ternyata tidak satupun ada yang terjual padahal kurma yang kami bawa lebih banyak dari sebelumnya. Bahkan pada saat menawarkan kurmanya kami malah hampir dikejar sama anjing.

Kemudian dengan hati yang kurang semangat kami pun memutuskan untuk pulang saja dari pada lelah dan kepanasan. Sesampainya di pondok kami pun di tanya oleh pengurus kami tentang jualannya. Dan kami pun menjawabnya dengan kurang semangat karena agak kecewa dengan jualan kami setelah tidak satu pun ada yang terjual tadinya.

 

Akan tetapi semuanya tidak terlalu saya sesali karena rizki memang sudah ada yang mengatur. dan kami pun berharap untuk keesokan harinya bisa menjual kurma lebih banyak lagi. Supaya bisa mendapat tambahan uang jajan yang banyak. hehe…

Kemudian keesokan harinya pun kami menjual kembali kurma yang sebelumnya tidak laku. Alhamdulillah kami membawa kurma sekitar 10 paket dan semuanya itu terjual semua. Dengan senangnya kami pun langsung pulang ke pondok.

 

Seperti itulah beberapa kegiatan saya saat di pondok untuk saat itu. Begitu banyak sekali hal baru yang saya dapatkan selama awal awal di pondok. Dari pengalaman diatas saya dapat menarik kesimpulan bahwa pilihan orang tua memang selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya. Dan juga semua rizki setiap orang sudah dibagi oleh Allah, tinggal bagaimana cara kita untuk menjemput rizki tersebut.

 

Leave a Comment

%d bloggers like this: