Kisah Menyedihkan – Hidup Tanpa Sosok yang dibanggakan

 

Kisah Menyedihkan – Di salah satu sudut kota bantul terdapatlah sebuah kampung di atas bukit kecil. Di sana tinggallah sebuah anak kecil yang masih berada di bangku sekolah dasar ini hidup dalam keluarga yang perekonomiannya bisa dikatakan cukup pas-pasan. Anak kecil ini selalu patuh terhadap kedua orang tuanya. Oh iya… panggil saja anak tersebut dengan nama agung.

Selama di tinggal oleh orang tuanya, anak tersebut sering berkelakuan nakal. Pekerjaan kedua orang tuanya tidak lain hanyalah seorang petani, itupun terkadang tidak cukup untuk menghidupi 4 orang anaknya. Oleh sebab itu agung selalu berkeinginan untuk merubah ekonomi keluarganya yang selalu dilanda hutang. Dengan semangatnya ia selalu membantu kedua orang tuanya setiap hari.

Sebelum di bangku sekolah sering kali ditinggal oleh kedua orangtuanya pergi ke sawah yang lumayan jauh, menjadikan agung ini mau tidak mau harus hidup bersama neneknya setiap hari dan harus jauh dari orang yang dibanggakan. Ia ditinggal kedua orangtuanya untuk mencari nafkah sebagai petani sekitar 1 bulanan. Semasa itulah anak kecil tersebut selalu bermain dengan adik laki-laki sepupunya yang bernama Adi. Walaupun hanya selisih sekitar 3 tahun tetapi mereka berdua sangat akrab.

Selama tinggal bersama neneknya ia tidak pernah merasa sedih. Namun rasa senanglah yang justru selalu dirasakannya setiap hari. Selalu saja banyak sekali hal yang ia lakukan bersama neneknya dan sepupunya tersebut. Terkadang neneknya ini membuat sebuah tikar yang terbuat dari daun pandan. Prosesnya pun cukup rumit dan harus dengan teliti.

Tikar yang terbuat bandan tersebut kadang disetorkan atau dijual, terkadang juga dibuat untuk dipakai sendiri untuk sehari-hari. Untuk pembuatan tikar dari pandan tersebut butuh waktu yang lumayan lama. Terkadang agung bersama sepupunya  juga memakai tikar buatan neneknya itu untuk tidur dan rasanya pun sangat nyaman dibanding dengan tikar pada saat ini.

Saat nenek membuat tikar, agung dan adi suka bermain ayunan disamping rumah kecil tempat neneknya membuat tikar. Sering kali mereka saling berebut akan tetapi neneknya selalu memberi nasehat agar mereka selalu berbagi. setelah sempat bertengkar akhirnya pun mereka kembali menjadi akrab dan bermain kembali.

Menjelang adzan dzuhur mereka berdua diingatkan oleh neneknya untuk makan dan agar supaya tidur siang.

“Agung dan Adi sudahin dulu mainnya. Mau ikut nggak nanti malam. Makan dulu sana terus tidur siang biar ntar malem biar nggak ngantuk” ujar si nenek.

“Mau diajak kemana emangnya nek?” tanya agung dengan semangat.

“Sudah pokoknya sekarang makan terus tidur dulu.” jawab si nenek.

“Horee… ntar malam pergi” ucap agung dan adi dengan senangnya.

Seteleh itu mereka berdua bersama dengan neneknya pergi kedapur untuk  makan. Kebudian sang nenek mengambilkan makan untuk kedua cucunya. Ternyata adi pun tidak meyukai lauk yang dibawakan oleh neneknya.

“Gak mau aku kalau pake lauk ini” keluh adi.

“Lha adanya cuma ini kok” jawab nenek.

“Pokoknya nggak suka aku kalau makan pake lauk ini” protes adi.

“Lha agung aja mau kok, masak kamu malah nggak mau” tegur nenek.

“Pokoknya kalau makannya pakai lauk ini” bantah adi.

“Kalau makan pake mi aja mau nggak? tanya nenek.

“Mau mau nek” jawab adi.

“Ya sudah tak beli kewarung dulu, agung tu sekalian  nggak” tanya nenek pada agung.

“Iya nek iya aku juga mau” jawab agung.

“tak ke warung dulu kalian berdua disini aja” kata nenek.

“Iya nek tapi ceya nek” ucap agung.

Setelah itu sang nenek pun langsung mengambil uang dan pergi kewarung.

Sepulang dari warung, sang nenek pun langsung membuatkan mi untuk cucunya.

“Habis makan langsung tidur loh ya” kata nenek memberikan mi yang sudah dibuatnya.

Tanpa menjawab mereka berdua pun langsung menyantap mi nya.

Daftar Isi

Munculah Sifat Nakalnya

Kemudian setelah  selesai makan, agung pun tidak segera tidur, akan tetapi malah bermain ayunan kembali. Melihat agung yang bermain ayunan lagi, kemudian nenek pun memanggilnya untuk tidur. Akan tetapi perkataan sang nenek pun dihiraukan oleh sang nenek.

Dibandingkan dengan adi, kenakalan agung pun kadang jauh lebih nakal daripada adi. Setelah diingatkan berkali-kali agung pun masih belum mempan terkadang juga apabila diingatkan satu atau dua kali langsung mendengarkan dan segera bergegas. Maklumlah pada usia seperti itu adalah tepat pada masa nakal-nakalnya seorang anak kecil, Apalagi disaat seperti itu agung sering ditinggal oleh orangtuanya pergi.

Setelah beberapa saat kemudian, agung pun akhirnya mendengarkan perkataan neneknya dan ia langsung beranjak dari tempatnya lalu tidur. Keduanya pun akhirnya tertidur pulas sampai sekitar sore. Terkadang setiap sore agung selalu dijemput oleh kakaknya untuk pulang apabila kedua orang tuanya tidak pergi. Pernah juga ia menginap dirumah neneknya.

Sore itu sekitar pukul 5, tiba-tiba kakaknya agung datang untuk menjemputnya. Mengetahui kakanya datang, agung pun enggan pulang karena ia sudah dijanjikan oleh neneknya untuk diajak pergi. Neneknya pun berusaha ngelali lali agung agar bisa mudah untuk diajak pulang.

Setelah beberapa saat kemudian akhirnya pun agung bisa diajak untuk pulang oleh kakanya, walaupun saat itu cukup lama juga untuk mengajaknya pulang. Sesampainya dirumah agung kemudian mandi lalu kumpul kumpul bersam keluarganya tak lupa juga bersama ketiga kakanya. Seperti itulah cerita masa kecil agung yang dulu sempat nakal seperti anak anak yang lainnya.

Tau Nggak Sih ?

Oh iyaa… hampir lupa, sebenarnya pada cerita tokoh agung pada cerita diatas adalah saya sendiri. Hehe… Mengapa namanya saya ganti ? Karena dari kecil sampai saat ini jika saya dirumah kabanyakan orang sekitar rumah saya sering dipanggil dengan nama agung. nama prasetyo sendiri sebenarnya adalah nama asli saya.

Asal mula nama panggilan saya diganti adalah ketika saya masih bayi, saat itu orangtua saya sudah memberi nama “Prasetyo” kepada saya. Tak lama kemudian akta kelahiran saya pun sudah jadi. Sesaat setelah itu salah satu tetangga saya pun memberi saran kepada ibu saya agar nama saya ditambahin “Agung” akan tetapi akta kelahiran saya malah sudah jadi dan tidak apabila ingin merubah namanya pun lumayan ribet.

Kemudian sewaktu masih kecil saya memeng sering ditinggal oleh kedua orangtua saya pergi. Sejak sering ditinggal orang tua saya saat itu saya juga pernah menjadi anak yang nakal. Saking nakalnya, saya pernah ditali kedua tangan saya oleh ibu saya karena saya terlalu nakal dan sering main bersama dengan teman saya sampai lupa waktu mau pulang apabila ibu saya sudah mencari saya.

Meskipun waktu kecil sebelum sekolah saya pernah nakal, tetapi setelah masuk di bangku sekolah saya mulai sadar tenteng betapa pentingnya berbakti terhadap kedua orang tua dan saya pun sudah sedikit takut untuk membantah perintah kedua orang tua saya saat itu. Meskipun ada juga kakak saya saat itu yang juga sering membantah perintah kedua orangtua saya.

Mulai sejak lulus SD saya pun sudah sedikit mengerti tentang kebutuhan keluarga saya. Oleh sebab itu sejak lulus dari bengku sekolah dasar saya dimasukan ke sebuah panti kecil yang menampung anak yatim, piatu, yatim piatu dan dhuafa untuk meringankan beban ekonomi orangtua saya yang serba kurang.

Walaupun saat itu saya masuk disebuah panti tersebut dengan terpaksa karena takut pada orang tua tetapi saat ini saya sudah merasakan efeknya. Ternyata pilihan orang tua lah yang terbaik bagi kita. Makanya kita harus selalu taat kepada semua perintah kedua orang tua kita selagi perintah tersebut tidak menyimpang dari syariat agama dan mumpung keduanya masih ada juga.

Leave a Comment

%d bloggers like this: