10+ Nama Kerajaan Islam di Indonesia Beserta Sejarah Berdirinya

Kerajaan Islam di Indonesia – Kerajaan Islam di Indonesia mulai berdiri sejak abad ke-13. Berbagai kerajaan tersebut mulai muncul karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya sedang mengalami masa keruntuhan. Kemudian dimasa itulah mulai berdirinya beberapa kerajaan Islam di daerah pesisir Pulau Sumatera. Berita tersebut pun diketahui dari catatan harian Marco Polo yang sebelumnya pernah tinggal di Sumatera.

Perkembangan dari kerajaan Islam sendiri dimulai di kawasan Selat Malaka. Hal tersebut diawali dengan berdirinya Kerajaan Perlak, kemudian berkembang dan mendorong beberapa kerajaan lainnya, seperti: Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh.

Setelah itu kemudian muncullah beberapa kerajaan Islam yang lainnya yang tersebar di Indonesia. Hingga sampai sekarang ini masih ada beberapa peninggalan bersejarah dari masing-masing kerajaan yang tersebar.

Nah…kerajaan apa saya yang pernah berdiri di Indonesia? Jika diantara kalian ada yang belum tahu, tenang…pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang beberapa kerajaan Islam yang ada di Nusantara beserta sejarah singkatnya.

Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

kerajaan islam di indonesia
Peta Kekuasaan Kerajaan Islam di Indonesia

Masuknya agama Islam memang ada kaitannya dengan kegiatan perdagangan dan juga pelayaran pada masa lampau. Pada waktu itu banyak sekali para pedagang yang berasal dari India dan China yang mengadakan hubungan dagang dengan pedagang-pedagang yang ada di Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu kegiatan pelayaran dan perdagangan semakin berkembang dan meluas.

Kemudian pada sekitar abad ke 7 dan 8 Masehi, para pedagang Islam dari Timur Tengah mulai banyak yang datang berlayar ke Selat Malaka hingga sampai ke perairan Nusantara. Ketika itu di Indonesia telah berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar, yaitu Kerajaan Sriwijaya. Pada waktu itu Kerajaan Sriwijaya terkenal dengan tempat singgah dan bongkar barang-barang dagangan yang dibawa oleh para pedagang dari luar ke wilayah Nusantara. Maka dari itu kemungkinan para pedagang dari Timur Tengah, mereka pernah bersinggah di Sriwijaya. Oleh sebab itu Kerajaan Sriwijaya dikenal dengan istilah Zabag atau Zabay oleh pada pedagang Islam.

Dengan semakin eratnya hubungan antara pedagang Islam dengan pedagang dari Indonesia tersebut juga menjadi berpengaruh masuknya agama Islam di kawasan Nusantara. Pada umumnya para pedagang Islam selain untuk berdagang, mereka juga memperkenalkan atau menyebarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Melalui hubungan dagang tersebut, para penduduk di Indonesia menjadi lebih mengenal dengan agama Islam dan banyak dari mereka yang memutuskan untuk masuk Islam.

Kemudian pada sekitar abad ke 11 agama Islam mulai tersebar di tanah Jawa. Berita tersebut diperoleh berdasarkan bukti dengan ditemukannya sebuah batu nisan (makam) yang bertulisan arab. Batu nisan yang berangka tahun 1082 tersebut ditemukan di sebuah Lereng dekat Gresik. Tulisan yang terdapat di batu nisan tersebut memuat keterangan tentang wafatnya seorang wanita yang bernama Fatimah binti Maimun.

Contoh Kerajaan Islam di Indonesia

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa banyak sekali para pedagang dari Timur Tengah yang datang ke Nusantara untuk berdagang. Selain hanya berdagang mereka juga memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Selang beberapa tahun kemudian kerajaan Sriwijaya yang terkenal sangat kuat mulai mengalami kemunduran dan akhirnya mulai runtuh.

Setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya tersebut, kemudian muncullah beberapa kerajaan Islam di daerah Sumatera. Seiring dengan berjalannya waktu, agama Islam mulai menyebar hingga ke tanah Jawa dan bahkan juga sampai ke daerah Maluku. Dengan begitu banyak sekali kerajaan Islam yang berdiri di kawasan Nusantara.

Nah agar lebih jelasnya lagi mengenai kerajaan Islam apa saja yang pernah berdiri di Nusantara, berikut beberapa contoh nama kerajaan Islam yang terkenal di Indonesia.

Kerajaan Islam Samudera Pasai

sejarah kerajaan islam di indonesia
Daerah Kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai

Seperti yang sudah diketahui bahwa Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam yang terbesar di wilayah Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai ini dulunya lebih dikenal dengan Kesultanan Pasai atau Samudera Darussalam. Selain itu kerajaan ini berada di daerah pesisir pantai sebelah utara Pulau Sumatera yang lebih tepatnya lagi berada diantara kota Lhokseumawe dengan Aceh Utara (sekarang bernama Geudong).

Kerajaan Samudera Pasai dibangun setelah terjadi runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, tepatnya dibangun sekitar abad ke 13 M. Selain itu Kerajaan Samudera Pasai juga didirikan oleh yang bernama Sultan Malik As-Shaleh yang sebelum memeluk Islam lebih dikenal dengan nama Meurah Silu.

Adanya berita tentang Kerajaan Samudera Pasai ini ditemukan oleh seorang sejarawan dari maroko yang bernama Ibnu Butatah saat ia berlayar dan kemudian ia berkunjung ke Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 – 1346. Setelah itu Ibnu Butatah menyebutnya dengan “Sumutrah” atau ejaannya untuk nama Samudera yang sekarang berubah menjadi Sumatera.

Kemudian pada tahun 1287, Sultan Malik Al-Saleh meninggal dan kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Mahmud. Sekitar tahun 1326 Sultan Mahmud juga wafat. Selanjutnya pemerintahan kerajaan Islam Samudra pasai dipimpin oleh Sultan Ahmad yang bergelar Sultan Malik Al Tahir.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad, kerajaan Samudra Pasai mendapat kunjungan Ibnu Batuta, utusan Sultan Delhi. Ibnu Batuta menceritakan bahwa Kerajaan Samudra Pasai merupakan bandar utama pelabuhan yang sangat penting. Karena di pelabuhan tersebut menjadi tempat bongkar muat barang-barang dagangan yang dibawa oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri (India dan Cina).

Baca juga : Sejarah Lengkap Kerajaan Samudera Pasai Sampai Peninggalannya

Kerajaan Islam Perlak

Perlu diketahui, ternyata Perlak merupakan Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Sumatera dan Nusantara. Kerajaan tersebut berdiri pada pertengahan abad 9 dengan raja yang pertama bernama Aluddin. Saat itu Perlak juga disebut sebagai kota dagang yang terkenal dengan penyedia lada. Kemudian pada akhir abad ke 12, kerajaan ini mengalami kemunduran yang sangat pesat dan akhirnya runtuh.

Kerajaan Islam Demak

contoh kerajaan islam di indonesia
Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Cirebon

Kerajaan Demak merupakan salah satu kerajaan yang besar di tanah Jawa dan didirikan pada abad ke 17. Pendiri dari kerajaan ini adalah Raden Patah yang merupakan seorang bupati di Kerajaan Majapahit yang berkedudukan di Demak dan telah menganut Islam. Dengan berdirinya Kerajaan Demak ini berarti Raden Patah telah melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Majapahit.

Selain itu berdirinya kerajaan ini juga telah mendapatkan dukungan dari daerah-daerah yang telah masuk Islam, seperti: Jepara, Tuban, dan Gresik. Pada waktu itu ulama memiliki peran yang sangat penting dalam pemerintahan, misalnya: Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa dengan diangkat sebagai penasihat dalam kerajaan.

Kerajaan Demak juga mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Trenggono. Kemudian pada tahun 1527 armada dari Portugis datang untung mendirikan sebuah benteng di Sunda Kelapa, Dan saat itu pula Kerajaan Demak berhasil mengusirnya dari tanah Jawa. Kemudian saat Kerajaan Demak dipimpin oleh Jaka Tingkir, pusat pemerintahannya dipindah dari Demak ke Pajang.

Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang merupakan pewaris atau sebagai pelanjut dari Kerajaan Demak. Raja pertama dari kerajaan tersebut yaitu Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging (daerah lereng Gunung Merapi). Kemudian oleh raja ketiga dari Kerajaan Demak yaitu Sultan Trenggono, Jaka Tingkir lalu diangkat menjadi penguasa disana dan juga dikawinkan dengan anak perempuannya.

Setelah raja dari Kerajaan Demak meninggal, kemudian Jaka Tingkir memindahkan beberapa benda pusaka yang ada di Demak untuk dipindah ke Pajang. Selain itu karena menjadi salah satu raja yang berpengaruh di Jawa, kemudian ia bergelar Sultan Adiwijaya. Sultan Adiwijaya juga menghadiahkan Kotagede Yogyakarta dan mengangkat Ki Ageng Pemanah untuk menjadi adipati disana.

Sesaat setelah itu Ki Ageng Pemanah meninggal dan digantikan oleh anaknya yang bernama Sutawijaya. Sementara itu adipati Demak diserahkan kepada Pangeran Aria Pangiri. Setelah menjadi adipati di Mataram (Yogyakarta), Sutawijaya memiliki keinginan untuk menjadi raja dan penguasa di tanah Jawa.

Kerajaan Mataram Islam

nama kerajaan islam di indonesia
Salah Satu Peningalan Kerajaan Mataram Berupa Masjid di Kotagede Yogyakarta

Seperti yang telah disinggung diatas, Mataram didirikan oleh Sutawijaya yang telah memiliki gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama setelah naik tahta pada tahun 1586. Kerajaan Mataram ini mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang saat itu mendapat gelar Sultan Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah dan waktu itu kekuasaan Mataram sangat luas dan semuanya dapat disatukan.

Letak dari Kerajaan Mataram ini berada di bekas wilayah kekuasaan Majapahit. Sementara itu, Pajang yang dulu menjadi pusat kerajaan, masuk menjadi wilayah kekuasaan Mataram Islam dan saat itu Pangeran Benowo menjabat sebagai adipati Pajang.

Baca Juga : Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno Sampai Runtuhnya

Kerajaan Cirebon

peninggalan kerajaan islam di indonesia
Keraton Kasepuhan Cirebon

Kerajaan Cirebon merupakan kerajaan islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh salah satu Walisongo yaitu Sunan Gunungjati. Setelah itu kerajaan ini resmi berdiri sebagai kerajaan islam yang merdeka dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, kemudian Sunan Gunungjati berusaha meruntuhkan Pajajaran yang belum menganut Islam.

Dari Cirebon Sunan Gunung Jati, mengembangkan ajaran Islam ke daerah-daerah lain seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten. Pada tahun 1525 M, ia kembali ke Cirebon dan menyerahkan Banten kepada anaknya yang bernama Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang meruntuhkan raja-raja Banten.
Setelah Sunan Gunung Jati wafat, lalu ia digantikan oleh cicitnya yang memiliki gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan wafat pada tahun 1650 M dan digantikan oleh putranya yang bernama Panembahan Girilaya. Sepeninggalannya, pada tahun 1697 Kesultanan Cirebon terpecah menjadi dua dan berhasil digagalkan oleh dua orang putranya, yaitu Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Penembahan Sepuh kemudian memimpin Kesultanan Kasepuhan yang bergelar Syamsuddin, sedangkan Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman yang bergelar Badruddin.

Kerajaan Islam Banten

nama kerajaan islam di indonesia
Ilustrasi Kerajaan Banten

Sunda Kelapa merupakan sebuah pelabuhan yang penting di Muara Sungai Ciliwung. Selain itu kedudukannya lebih penting dibandingkan dua kota Pajajaran lainnya, yaitu Banten dan Cirebon. Setelah Fatahillah (menantu Sunan Gunungjati) berhasil menaklukkan bangsa Portugis di Sunda Kelapa, Kerajaan Banten kemudian berkembang dengan pesat sebagai pusat perdagangan dan sekaligus tempat penyiaran agama.

Setelah Sunan Gunungjati berhasil menaklukkan Banten pada tahun 1525, kemudian ia menyerahkan kekuasaan tersebut kepada putranya yang bernama Sultan Hasanuddin. Beberapa saat kemudian Sultan Hasanuddin menikah dengan putri Demak dan juga diresmikan sebagai Panembahan Banten pada tahun 1552 M.

Selain itu ia juga meneruskan usaha dari ayahnya dalam meluaskan daerah Islam, yaitu di Kelampung dan Sumatera Selatan. Kemudian pada tahun 1527 M, ia berhasil menaklukkan Sunda Kelapa dengan pasukannya. Kerajaan Banten ini mengalami kemajuan yang sangat pesat ketika dibawah kekuasaan Ki Ageng Tirtayasa.

Kerajaan Islam Ternate

Kerajaan yang berdiri sekitar pada abad ke 13 ini terletak di daerah Maluku Utara dengan ibu kotanya di Sampalu. Sultan Zaenal Abidin merupakan raja pertama yang memimpin disana. Selain itu ia juga pernah belajar agama Islam di Gegesik. Selain itu Kerajaan Ternate juga terkenal sebagai penghasil remah-rempah yang terbesar di wilayah Nusantara.

Pada abad ke 15, Kerajaan Ternate menjadi salah satu kerajaan yang sangat penting di Maluku. Kerajaan ini mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada waktu ini wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate sampai ke daerah Filipina bagian selatan.

Selain itu Sultan Baabullah juga mendapatkan gelar sebagai : “Yang Dipertuankan di 72 Pulau”. Tak hanya itu, ia juga dikenal dengan kegigihannya dalam melawan Portugis. Untuk mempertahankan kekuasaannya Ternate memiliki 100 kapal untuk menjaga wilayahnya.

Baca Juga : Kerajaan Terbesar di Indonesia Sepanjang Sejarah

Kerajaan Tidore

sejarah kerajaan islam di indonesia
Kerajaan Ternate dan Tidore

Tak hanya Ternate, Kerajaan Tidore juga terkenal sebagai penghasil rempah-rempah yang besar pula. Dengan hasil cengkeh dari daerah tersebut Kerajaan Tidore menjadi sangat maju. Adapun raja yang paling terkenal di Kerajaan Tidore yaitu Sultan Naku.

Pada pemerintahannya tersebut Kerajaan Tidore memiliki kekuasaan yang luas, yaitu meliputi: Halmahera, Seram, Kai dan Irian Jaya. Pada saat bangsa Portugis datang di daerah tersebut, Kerajaan Ternate dan Tidore sering di adu domba dan sempat menjadi masalah yang besar. Kemudian setelah mengetahuinya, kedua kerajaan tersebut bersatu untuk mengusir Protugis dari Maluku.

Kerajaan Islam di Sulawesi (Gowa-Tallo, Bone, Soppeng dan Luwu)

nama kerajaan islam di indonesia
Kerajaan Gowa-Tallo

Perlu diketahui juga, ternyata di daerah Sulawesi memiliki banyak sekali kerajaan yang bercorak Islam, seperti Gowa-Tallo, Bone, Soppeng dan juga Luwu. Kerajaan Gowa-Tallo sering dikenal sebagai kerajaan yang kembar dan ada juga yang menyebutkan sebagai Kerajaan Makasar. Kerajaan ini terletak di daerah Semenanjung Barat Daya Pulau Sulawesi.

Selain itu Gowa-Tallo merupakan kerajaan yang berpusat di Makasar (sekarang Ujung Pandang), yaitu di Simbaopu (Makasar). Kerajaan Gowa-Tallo juga merupakan salah satu kerajaan yang pertama di Pulau Sulawesi. Sedangkan untuk  Kerajaan Bone, Waajo, dan Soppeng bersatu yang disebut Tellum Pottjo (Tiga Kerajaan).

Kemudian penguasa kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1605 , mereka mulai masuk Islam. Adapun raja Tallo yakni Kraeng Matoaya yang sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa (Makasar), ia mendapatkan gelar Sultan Abdullah. Sedangkan penguasa Gowa yaitu Daeng Manrabia sebagai raja disana bergelar Sultan Alaudin pada tahun 1605-1639.

Mereka berdua sangat giat dalam menyebarkan agama Islam. Selain itu mereka berdua juga berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Pada awalnya mereka mengajak Raja Bone, Sopeng dan Wajo untuk memeluk agama Islam. Kemudian karena ditolak, maka ketiga kerajaan tersebut diperanginya dan akhirnya semua masuk Islam.

Sultan Alauudin merupakan seorang pemimpin dari kerajaan tersebut yang secara terang-terangan menentang tindakan Belanda. Pada tahun 1639 ia meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Sultan Muhammad Said. Selain itu ia juga pernah mengirimkan beberapa armadanya ke Maluku untuk melawan Belanda disana. Dan akhirnya pada tahun 1653 Sultan Muhammad Said meninggal.

Perlawanan Kerajaan Makasar terhadap Belanda memuncak pada saat dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin pada tahun 1653-1669. Selain itu Sultan Hasanuddin juga mendapatkan julukan  “Ayam Jantan dari Timur” karena ia merupakan raja Makasar yang paling berani melawan Belanda. Ia juga sering  melakukan perlawanan terhadap kapal-kapal Belanda, seperti VOC (Belanda).

Baca Juga : Peninggalan Sejarah Bercorak Islam di Indonesia

Nah…mungkin itu tadi beberapa kerajaan islam yang pernah berdiri di wilayah Nusantara. Semoga dapat menambah pengetahuan kita semua. Dan baca juga artikel yang lainnya, agar lebih banyak lagi pengetahuan yang kalian dapatkan. 😉

Leave a Comment

%d bloggers like this: